Pusaran kabut hitam itu mendesis lembut di hadapannya, memancarkan aroma tanah basah bercampur besi hangus. Alistair mengulurkan tangannya yang gemetar.
Seketika, gelombang dingin membeku menerjang pergelangan tangannya. Bukan rasa sakit biasa—ini adalah ribuan memori perang purba yang dipaksakan masuk ke dalam benaknya. Ia melihat pemandangan ribuan tahun lalu: dewa-dewa bercahaya emas yang mereka sembah ternyata hanyalah parasit yang memangsa jiwa manusia.
"Jika mereka menginginkan kematianku..." desis Alistair dengan mata yang kini berpendar kelabu kabut, "maka aku akan menjadi badai yang meruntuhkan kuil-kuil mereka."
Bekas luka di dada kirinya mulai menghitam, sebelum perlahan menutup dengan jaringan daging baru yang tak lagi berdarah merah.